Jangan Galat Pilih — Mimbar Warga

Masa kampanye calon angota DPR, DPD, & DPRD, dan pasangan calon presiden dan wakil presiden secara nasional berakhir. Sabtu (13/4) aktivitas mempromosikan diri, partai, dan pasangan capres/cawapres merupakan hari terakhir & selanjutnya 14-16 April 2019 merupakan masa tenang, lalu pada taggal 17 April adalah acara puncak , pelaksanaan pencoblosan.

Hiruk-pikuk kampanye, sinkron aturan yang berlaku, harusnya nir terdengar atau terlihat lagi dalam masa tenang. Segala indera peraga, umbul-umbul, pamflet terkait calon, partai, & pasangan harusnya sudah dibersihkan berdasarkan loka-loka umum. Siapapun tidak boleh memanfaatkan ketika pada masa hening buat terus berkampanye. Begitulah aturan mainnya.

Bagi kita para pemilih, yang akan menaruh hak pilihnya, masa damai bisa dimanfaatkan buat merenungkan lebih dalam, lebih jernih, tanpa terpengaruh suara-bunyi atau janji-janji. Saatnya kita berpikir siapakah sepantasnya yg kita percaya untuk duduk pada DPR, DPD, DPRD, dan pasangan yang pantas duduk sebagi presiden dan wakil presiden.

Kita wajibmenyadari, galat pilih pada pemilu akan berdampak 5 tahun ke depan. Mengalami penyesalan panjang,. Orang, pasangan, partai yang dipercaya pada pemilu akan menjalankan peran mereka, apakah itu cocok dengan asa kita atau nir. Lantaran itu jangan galat pilih. Kesempatan kita berpikir lebih jernih, lebih matang, sebelum menjatuhkan pilihan pada calon-calon yg terdapat.

Ingat, kampanye semenjak kapanpun tidak ubahnya bak promosi perusahaan kecap. Semua mengaku berkualitas angka satu, nir ada produk kecap yg mengaku menjadi nomordua atau nomortiga. Boleh nomorurut mereka, para calon pada pemilu ini, bhineka, tapi dari sisi kualitas semuanya mengaku angka satu alias paripurna. Artinya semuanya mengaku paling baik. Apa sahih demikian, wallahualam. Lantaran itu keputusan menentukan terserah kita masing-masing.

Sebelum menjatuhkan pilihan, sebelum mencoblos, poly hal yang perlu kita perhitungan. Entah itu berdasarkan sisi keamanan, ekonomi, terlebih berkaitan dengan kepercayaan . Manakah yang terbaik diantara pilihan yg terdapat, manakah yg akan kita pilih. Paling tidak tentunya memilih yg paling mendekati harapan kita.

Jangan anggap satu bunyi yang kita berikan tidak berarti apa-apa. Lantaran itu selain memilih, kita selayaknya jua ikut mengawasi jalannya pencoblosan. Ingat, bukan misteri umum lagi bahwa yg namanya pemilu kerap diwarnai kecurangan. Berbagai cara dilakukan oleh banyak calon yang berpikiran “yang penting menang”. Lantaran itu nir heran, menjelang, saat, & sesudah  pencoblosan kecurangan-kecurangan  pun mencuat.

Berita mengenai sudah dicoblosnya surat bunyi buat calon-calon eksklusif, munculnya kabar dustaalias hoaks, menjelek-jelekkan calon/partai/pasangan lain, nir putus-putusnya kita dengar & menghiasi media umum. Karena itu tidak keliru apabila ada ungkapan “dalam politik teman itu merupakan orang-orang yg memiliki kepentingan sama. Sedangkan versus adalah pihak yang mempunyai kepentingan berbeda.”

Jangan heran, selama masa kampanye banyak orang/calon datang-datang berubah menjadi gemar memberi. Ada calon legislatif, dan calon-calon lainnya yg dengan mudah menyumbang buat kepentingan masyarakat, membentuk/memperbaiki jalan, lapangan, bahkan terdapat calon berjanji akan menyumbang perbaikan tempat ibadah kepercayaantertentu, karena pada daerah pemilihannya itu pemilihnya didominasi sang kepercayaaneksklusif tadi. Bukan misteri jua, terdapat yg membagi-bagikan amplot (tentunya berisi uang), menggunakan harapan yang dibagi akan menentukan/mencoblosnya pada pemilu. Karena itu, hati-hati. Jangan galat pilih.

Kita pula berharap, moga saja pemilu tahun ini berjalan langsung, generik, bebas dan rahasia (Luber), jua jujur dan adil (Jurdil). Mari jadikan kecurangan menjadi musuh beserta. Mudahan-mudahan  pihak berwenang menjalankan kiprah mereka masing-masing, hingga kecurangan mampu dihindari.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *