Menentukan Miskin Belum Tentu Sengsara – Hidayatullah.com

Hidayatullah.com dua pilihan: sebagai kaya atau menjadi miskin. Mana yang akan Anda pilih?

Hampir niscaya seluruh orang yang kita tanya akan memilih kaya. Sebab, kaya itu menyenangkan, sedang miskin itu menyengsarakan.

Begitu pula ketika Anda ditanya, apakah menentukan sehat atau menentukan sakit? Tentu Anda akan menjawab memilih sehat. Sebab, sehat itu menyenangkan, sedang sakit itu menyengsarakan.

Pilihan ini tidak keliru. Kita tahu, banyak sekali kebajikan yang mampu kita lakukan apabila kita kaya. Bahkan, menggunakan kekayaan tersebut, kita sanggup membentuk sumber pendapatan pahala yg terus mengalir meskipun kita sudah mati.

Masih ingat cerita mengenai sumur Utsman bin Affan? Ya, Utsman adalah teman Rasulullah ﷺ yg kaya. Dengan kekayaannya dia mampu membeli sebuah sumur dari seseorang Yahudi menggunakan harga yang sangat mahal.

Jika sebelumnya kaum Muslim wajibmengantri buat membeli air berdasarkan sumur orang Yahudi tadi, maka sehabis dibeli oleh Utsman kaum Muslim bebas merogoh air tanpa harus membeli. Bahkan, manfaat sumur tadi bisa dirasakan hingga kini.

Begitu jua saat kita sehat, pastilah banyak sekali kebajikan yang mampu kita lakukan ketimbang waktu kita sakit. Orang yg sehat bisa beribadah secara sempurna, melakukan safar buat menuntut ilmu, atau membantu orang lain yg butuh tenaga.

Namun, galat jika kita memilih kaya atau menentukan sehat hanya lantaran takut sengsara. Kalau sekadar sengsara pada global, mungkin saja ya! Tapi, sengsara di akhirat, belum tentu!

Boleh jadi kemiskinan & rasa sakit yg kita derita justru memudahkan kita buat hidup bahagia pada akhirat. Atau, sebaliknya, boleh jadi kekayaan & kesehatan itulah yg justru menciptakan kita sengsara di akhirat kelak. Na’udzubillahi min dzalik.

Bagi kaum Mukmin yang mengimani bahwa hidup bukan sekadar pada global, namun jua pada akhirat, bahkan akhiratlah tujuan yg sebenarnya, maka ia akan ikhlas mendapat apa pun keadaannya asalkan hal tadi bisa memudahkannya menuju kebahagiaan di akhirat.

Tentang sakit yang kita derita, contohnya, bukanlah sesuatu yang wajibdikutuk. Sebab, bisa jadi rasa sakit tersebut justru akan mengikis habis dosa seseorang hamba. Hal ini dikisahkan sang Muslim bahwa suatu ketika Rasulullah ﷺ mengunjungi seorang teman perempuanbernama Ummu Sa’ib yang sedang gelisah luar biasa.

Rasulullah ﷺ pernah bertanya pada Ummu Sa’ib apa yg membuatnya gelisah?  “Saya demam parah. Semoga Allah mengutuk penyakit ini,” kata perempuanitu.

Rasulullah ﷺ kemudian bersabda, “Jangan mengutuk demam. Sebab sesungguhnyanya penyakit itu seperti tungku yang menghilangkan kotoran pada besi.”

Begitu jua kemiskinan, tidak layak kita ratapi. Sebab, boleh jadi ketiadaan harta justru akan meningkatkan kecepatan hisab kita di akhirat kelak.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda pada kaum fakir dan miskin dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, ” Wahai orang-orang fakir, apakah aku tidak memberi fakta gembira dalam kalian bahwa orang-orang mukmin yang fakir akan masuk surgalebih dulu sebelum orang-orang mukmin yang kaya dengan jarak 1/2 hari akhirat (atau setara menggunakan 500 tahun).”

Jadi, yuk kita jalani hari-hari kita menggunakan rasa syukur & sabar, apa pun keadaan kita saat ini. */Mahladi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *