Konflik Pemilihan Bem Feb Unej Berlanjut, Bikin Mimbar Terbuka

TEGALBOTO, Radar Jember – Pemilu Raya (Pemira) Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej) menyisakan perkara. Kedua kubu pasangan calon sama-sama merasa saling dicurangi. apabila sebelumnya terdapat sekelompok mahasiswa yang menggelar protes terhadap dekanat, kali ini timbul gerombolanmahasiswa lain yang melakukan aksi tandingan. Mereka membikin mimbar terbuka pada depan fakultas setempat.

Empat hari kemudian, sekelompok mahasiswa yg mengatasnamakan Aliansi Pembela Demokrasi (APD) FEB Unej menggelar aksi. Mereka menuntut permohonan maaf dari dosen yg menginstruksikan buat memenangkan keliru satu calon. Tuntutan lainnya adalah adanya agunan atas pemira yang netral tanpa hegemoni pihak mana pun. Serta nir terdapat ancaman menurut pihak mana pun.

Dalam aksinya itu, APD jua menyinggung adanya kesalahan prosedur pemungutan bunyi. Mereka menilai, mahasiswa S-2 dan S-3 tidak berhak menaruh bunyi pada pemira ini. Hanya mahasiswa S-1 yg berhak memakai hak suaranya buat memilih pasangan calon ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Belakangan, aksi itu berdampak dalam pasangan calon yg diklaim mendapat dukungan pihak dekanat. Suara mereka berkurang. Ini menyusul pembatalan suara mahasiswa S-2 dan S-3 yang turut melakukan voting. Imbasnya, paslon kepala BEM yg mulanya unggul, perolehan suaranya merosot. Setelah itu, pihak Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) dan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Mahasiswa jua turut menaruh suaranya.

Dua hal inilah yang memantik munculnya aksi tandingan. Kemarin (7/1), golongan mahasiswa yg mengatasnamakan diri menjadi mahasiswa netral menggelar mimbar terbuka pada depan FEB Unej. Mereka menyuarakan adanya kejanggalan atas aplikasi pemira tersebut.

TEGALBOTO, Radar Jember – Pemilu Raya (Pemira) Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej) menyisakan masalah. Kedua kubu pasangan calon sama-sama merasa saling dicurangi. apabila sebelumnya terdapat sekelompok mahasiswa yg menggelar protes terhadap dekanat, kali ini ada gerombolanmahasiswa lain yg melakukan aksi tandingan. Mereka membikin mimbar terbuka di depan fakultas setempat.

Empat hari kemudian, sekelompok mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi Pembela Demokrasi (APD) FEB Unej menggelar aksi. Mereka menuntut permohonan maaf berdasarkan dosen yang menginstruksikan buat memenangkan salahsatu calon. Tuntutan lainnya merupakan adanya jaminan atas pemira yg netral tanpa intervensi pihak mana pun. Serta nir ada ancaman dari pihak mana pun.

Dalam aksinya itu, APD juga menyinggung adanya kesalahan prosedur pemungutan suara. Mereka menilai, mahasiswa S-dua & S-tiga nir berhak memberikan suara pada pemira ini. Hanya mahasiswa S-1 yg berhak memakai hak suaranya buat menentukan pasangan calon ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Belakangan, aksi itu berdampak pada pasangan calon yang dianggap menerima dukungan pihak dekanat. Suara mereka berkurang. Ini menyusul pembatalan bunyi mahasiswa S-dua dan S-tiga yang turut melakukan voting. Imbasnya, paslon ketua BEM yg mulanya unggul, perolehan suaranya merosot. Setelah itu, pihak Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) & Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Mahasiswa jua turut memberikan suaranya.

Dua hal inilah yang memantik munculnya aksi tandingan. Kemarin (7/1), golongan mahasiswa yang mengatasnamakan diri sebagai mahasiswa netral menggelar mimbar terbuka di depan FEB Unej. Mereka menyuarakan adanya kejanggalan atas pelaksanaan pemira tadi.

TEGALBOTO, Radar Jember – Pemilu Raya (Pemira) Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej) menyisakan kasus. Kedua kubu pasangan calon sama-sama merasa saling dicurangi. Jika sebelumnya terdapat sekelompok mahasiswa yg menggelar protes terhadap dekanat, kali ini muncul grup mahasiswa lain yg melakukan aksi tandingan. Mereka membikin mimbar terbuka di depan fakultas setempat.

Empat hari lalu, sekelompok mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi Pembela Demokrasi (APD) FEB Unej menggelar aksi. Mereka menuntut permohonan maaf menurut dosen yg menginstruksikan untuk memenangkan keliru satu calon. Tuntutan lainnya adalah adanya jaminan atas pemira yang netral tanpa hegemoni pihak mana pun. Serta tidak terdapat ancaman berdasarkan pihak mana pun.

Dalam aksinya itu, APD jua menyinggung adanya kesalahan prosedur pemungutan bunyi. Mereka menilai, mahasiswa S-2 dan S-3 tidak berhak menaruh suara pada pemira ini. Hanya mahasiswa S-1 yg berhak memakai hak suaranya buat memilih pasangan calon kepala Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Belakangan, aksi itu berdampak pada pasangan calon yg diklaim mendapat dukungan pihak dekanat. Suara mereka berkurang. Ini menyusul pembatalan suara mahasiswa S-2 dan S-3 yang turut melakukan voting. Imbasnya, paslon kepala BEM yg mulanya unggul, perolehan suaranya merosot. Setelah itu, pihak Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) & Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Mahasiswa juga turut menaruh suaranya.

Dua hal inilah yang memantik keluarnya aksi tandingan. Kemarin (7/1), golongan mahasiswa yg mengatasnamakan diri sebagai mahasiswa netral menggelar mimbar terbuka pada depan FEB Unej. Mereka menyuarakan adanya kejanggalan atas pelaksanaan pemira tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *