Singa-singa Mimbar, Melawan Lunturnya Tuah Dakwah

Mereka permanen berdiri tegak, sekalipun teknologi telah merebut jamaahnya. Mereka berteriak lantang sekalipun indera pendengaran, mata, dan hati orang-orang enggan mendengar nasihat bijaknya.

DULU & sekarang tak sama lagi. Dulu, mimbar begitu agung & terhormat. Hingga orang-orang segan mendekati apalagi berdiri di sana. Tapi kinimimbar, tak ubahnya kotak kayu yang pada sana mampu ‘beratraksi’ siapa saja.

Dulu, mimbar tempat berdiri para pendakwah berilmu. Serta pendakwah yang dinilai berakhlak mulia. Mereka yg mempunyai, karisma yang sanggup menyedot ratusan hingga ribuan jamaah. Duduk khusyuk mendengar setiap istilah mulia.

Tapi kini, mimbar-mimbar banyak ditinggalkan jamaah. Ruang itu telah direbut kemajuan peradaban teknologi. Semisal televisi hingga smartphone.

Di ibu kota, mimbar nyaris hanya tersisa bagi para pengkhotbah jumat. Satu lagi, bagi penceramah pada hari-hari besarkepercayaan . Tapi mimbar-mimbar bagi para pendakwah usai salat jamaah, seiring waktu luntur dan mulai ditinggalkan. Apakah kelak mimbar jumat dan hari akbar pun akan ditinggalkan?  “Semoga nir,” istilah TGH Mustamiuddin Ibrahim.

Ia galat satu singa mimbar. Sampai waktu ini masih bersuara lantang. Sekalipun situasi peradaban insan sudah berubah total, Ibrahim masih berdiri pada sana mengajar mengenai akhlak & jalan kebaikan. Sekalipun lebih poly orang yg tak mendengarkannya daripada yang tekun mendengar nasihatnya.

Terlalu dini mengkhawatirkan ini? Tidak. Keresahan ini memang telah saatnya. Ibrahim cemas melihat bagai langit & bumi ini. Dulu mimbar selalu jadi primadona bagi para pencari kedamaian dunia dan kehidupan mulia pada akhirat. Tapi, sekarang seluruh beralih menikmati pesatnya teknologi dunia. “Orang lebih sibuk memegang HP, daripada dengar ceramah, ini fenomena,” sebutnya.

Dulu bila ada yg ceramah. Orang-orang duduk takzim mendengar ajakan-ajakan kebaikan. Tak terdapat yang berani bersuara, takut terdapat kata mutiara yang terlewat. Satu dua jam mendengar ceramah rasanya sungguh singkat.

Tapi sekarang nir lagi demikian. Bilapun ada yg dengan setia duduk pada depan mimbar jumat, selesainya pergi banyak yang melupakan prinsip-prinsip ajaran kebaikan. Ajakan kebaikan itu, telah bergeser nilainya. Bukan lagi dipercaya sebagai nasihat & penerang jalan hidup. Tapi seolah dianggap dongeng yang belum tentu sebagai kenyataan.

“Tapi saya tentu tidak akan menyerah & meninggalkan mimbar, saya akan terus lakukan. Entah mereka mau dengar atau nir,” ujar laki-lakisepuh yang telah memulai dakwah sejak tahun1963.

Bagi Ibrahim, kebaikan tidak boleh berhenti disuarakan. Bila berhenti salahnya ada dalam mereka yang akhirnya memilih membisu. Mimbar boleh saja diabaikan, mimbar boleh saja ditinggalkan, mimbar boleh saja hanya terisi beberapa orang ruang di depannya. “Tapi suara kebaikan permanen harus dikumandangkan!” tegasnya.

Ketua Majelis Fatwa MUI NTB ini menyadari. Menyuarakan kebaikan menurut kembali mimbar di kota yang pembangunan pesat sungguh tidak mudah. Ada sejuta alasan orang-orang buat menghindari duduk di depan mimbar. Mulai menurut sibuk karena pekerjaan sampai menganggap waktu ini bukan lagi zamannya duduk di depan mimbar.

Penduduk kota begitu sibuk mengejar materi. Sampai melupakan pendidikan mental & moral bagi dirinya dan keluarganya.

“Ada anak membunuh ibunya, ada anak memperkosa sudaranya,” ungkapnya miris.

Dan banyak lagi, masalah kriminal yang semakin intes didengar. Ini menurut Ibrahim, dampak jelek dari geliat pembangunan. Di mana perhatian orang pada nilai-nilai luhur kepercayaan , turun. Berganti dengan ego memburu materi yang meninggi.

“Mereka sibuk mengejar urusan dunia hingga mendorong persaingan sengit, menghalalkan segala cara. Kehidupan macam inikah yang ingin dikejar manusia?” kritisnya.

Ibrahim merasa saat ini, begitu sulit berdiri di depan anak-anak muda. Lalu menceritakan mengenai akhlak baik & budi pekerti pada mereka. Teknologi telah merampas, kesempatan itu. Lalu para anak belia menggunakan mudah mengakses warta yg sebenarnya jelek bagi kesehatan berpikir mereka.

“Tapi sungguhpun itu sulit, kita selalu punya asa buat memperbaiki ini semua,” ujarnya.

Ia belum mau menyerah. Menegaskan komitmennya, untuk selalu hadir hadir & lantang berteriak menurut mimbar ke mimbar. Ia konfiden suatu saat titik jenuh itu akan tiba. Di mana orang-orang akan sadar tradisi mencari ilmu berdasarkan depan mimbar, masih jadi cara terbaik buat menyerap ilmu akhlak dan kebaikan.

“Kita berceramah, tapi  orang-orang sibuk pegang HP, itu biasa kini. Kalau dulu mana berani,” cetus sosok sepuh, salahsatu siswa emas almagfurullah Maulanasyaikh Zainuddin Abdul Majid itu.

Aumannya tentang kebaikan, tetap akan ia lantangkan. Apapun dan bagaimanapun kondisi para jamaah. Pria berasal Suralaga, Lombok Timur yang kinitinggal di kota ini mengakui ini memang tidak gampang.

Tapi sejatinya menjadi ladang amal kebaikan yg terbentang luas bagi para guru ilmu kebajikan.

“Saya memberikan asa akbar, dalam dai-dai kita yang muda, untuk tidak menyerah melihat syarat generasi kita yg malas hadir pada mimbar-mimbar agama,” harapnya.

Lalu modal yg dia harapkan berikutnya yakni hadirnya sistem pemerintahan yang lebih tegas. Berwibawa. Serta sanggup menindak setiap pelanggaran dengan sepantasnya. Lantaran hanya menggunakan cara itu, Ibrahim konfiden marwah mimbar akan pulang lagi. Sebagai galat satu madrasah terbaik buat mengajarkan akhlak & ilmu agama dalam generasi masa kini.

Jika Ibrahim mewakili keresahan para singa-singa mimbar yang telah sepuh. Maka, terdapat perwakilan singa mimbar belia yang masih setia jua menyuarakan ajakan mulia.

Dari sekian poly dai di kota yg terus konsisten mengajak pada kebaikan itu, Ustad Badruttaman Ahda, salahsatu yg menolak menyerah melihat kondisi ini. Bagi putra tertua Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh, Ahda menentukan jalan dakwah menciptakan masyrakatnya. “Kita sudah kehilangan semangat dakwah di bunda kota,” kata Ahda.

Ahda nir hanya bersuara lantang dari mimbar-mimbar. Menjadi singa muda yang mengaum, melawan terpuruknya akhlak rakyat. tapi beliau juga mencoba memodifikasi dakwahnya menggunakan misi sosial melalui AA Fondation.

Tantangan yang berbeda, meniscayakan cara yang lebih kreatif pula menganganinya. Pria jebolan, Al Azhar Mesir ini yakin. Semaju-majunya Kota Mataram menggunakan pembangunanya.

Pada akhirnya permanen membutuhkan benteng agama & akhlak, buat membuat rakyat tidak lupa diri dan kebablasan & kehidupannya.

“Tantanganya nir mudah, karena kita dituntut menaruh pengetahuan yang lebih menarik di banding apa yg generasi masa sekarang sanggup dapatkan menggunakan mudah melalui teknologi smartphone,” ulasnya.

Mindset rakyat kota memang poly yg bergeser jauh. Warga kota terjebak dalam kehidupan yg serba materialistik. Terjebak dalam kuantitas bukan kualitas.

“Ada nilai luhur yang luntur, pada tengah sibuknya wargakota mengejar hal-hal yg bersifat keduniawian,” ujarnya.

Maka tidak heran. Jika, terdapat si kaya yang selalu merasa miskin. Tanpa risih ikut berebut logistik ketika ada bantuan yg tiba. Si kaya pun tanpa malu, menadahkan tangan menggunakan gelang emas melingkar di lengan, bersaing menggunakan tangan-tangan lusuh nan kurus menurut si miskin.

Maka mimbar-mimbar kepercayaan , merupakan tempat bersuara lantang sebaik-baiknya tentang kekeliruan ini. Walau tantangannya tidak akan mudah. Tidak hanya sekadar mengajak rakyat mengubah karekternya, namun mendorong supaya mereka mau hadir pada mimbar-mimbar kebaikan. (zad/r5)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *