Bei : Pilih Saham Atau Reksadana? – Mimbar Generik Online

mimbarumum.co.id – Berinvestasi sudah sebagai kebutuhan rakyat. Sehingga menjaga nilai uang atau asetnya masing-masing. Apalagi, sekarang kalangan milenial kian melek akan pentingnya berinvestasi. Berbagai liputan yg mudah kita dapatkan secara online membuat investasi semakin mudah buat pada pelajari & di lakukan.

“Tren investasi pun kiniberubah, kalau dulu orang mungkin lebih memilih berinvestasi dalam bentuk tanah, bangunan, emas, atau aset permanen lainnya. Tetapi ketika ini, teknologi menciptakan orang lebih poly melirik investasi pada bentuk portfolio investment atau investasi portofolio,” ujar Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumut Pintor Nasution, Sabtu (22/1/2022).

Pintor bilang, investasi pada bentuk instrumen keuangan semakin di minati investor belia. Salah satunya merupakan pilihan berinvestasi di pasar kapital melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan mediator perusahaan imbas. Salah satu instrumen investasi yg pada perjualbelikan di BEI adalah saham. Namun, sebelum memulai invetasi saham, calon investor wajibmemeriksa ciri investasi saham itu sendiri.

“Mengapa harus di pelajari? Karena berinvestasi tidak selaras menggunakan menabung. Ada risiko pada pulang potensi return investasi. Seperti jargon yg seringkali di sampaikan para investor, “High risk high return, low risk low return”.  Investasi saham termasuk dalam katagori investasi yang memiliki risiko tinggi,” jelas dia.Inilah Keuntungan Saham di BEI

Mari kita lihat potensi laba saham terlebih dahulu. Pertama, potensi keuntungan dari capital gain, yaitu laba menurut selisih antara harga jual menggunakan harga beli. Biasanya, makin poly dana di investasikan, makin akbar jua potensi capital gain yang bisa pada peroleh. Keuntungan selanjutnya dari investasi saham adalah investor akan memperoleh pembagian dividen. Yakni bagian berdasarkan laba perusahaan yg pada bagikan kepada para investor (pemegang sahamnya) sesuai jumlah saham yg di miliki atau modal yang pada investasikan.

Selain menaruh potensi keuntungan besar , investasi saham juga memiliki risiko. Salah satunya merupakan potensi kerugian dampak pergerakannya yg cenderung lebih fluktuatif sebagai akibatnya harga jualnya dapat merosot sewaktu-waktu.

“Risiko lainnya dari investasi saham merupakan waktu perusahaan bangkrut menurut putusan pengadilan sehingga wajibpada likuidasi. apabila perusahaan di pailitkan, maka pemegang saham biasa akan menjadi prioritas terakhir buat menerima hasil likuidasi aset perusahaan selesainya seluruh kewajibannya di lunasi,” terangnya.

Selain itu, risiko lainnya adalah waktu perusahaan mengalami delisting atau di hapus menurut bursa saham oleh BEI. Sehingga investor harus menjual seluruh sahamnya meskipun harga sahamya sedang turun.

Lalu, bagaimana agar investor mampu meminimalisasi risiko? Dengan menyelidiki kinerja perusahaan & membeli saham dari prospek kinerja jangka panjang. Semakin panjang jangka saat berinvestasi, semakin rendah potensi risiko yg akan pada terima.

Selain itu lakukan pula diversifikasi dengan membeli lebih dari satu saham, & membeli saham di beberapa sektor bisnis. Sehingga apabila galat satu perusahaan atau salahsatu sektor mengalami kasus, tidak seluruh dana investasi tergerus atau berkurang akibat penurunan harga saham.

Lantaran itu, berinvestasi saham membutuhkan modal yg nisbi akbar, yang cukup buat membeli beberapa saham dengan tujuan buat mengelola risiko.

“Investor jua harus membeli minimal satu lot saham yang berisi 100 lbr saham per lot. Selain modal investasi, pada butuhkan jua kemampuan buat menganalisa perusahaan yg sahamnya hendak di miliki, juga membutuhkan waktu untuk mengamati konvoi harga saham,” bebernya.Reksadana Saham

Namun, istilah Pintor, investasi saham tak harus bermodal akbar. Investor sanggup berinvestasi saham dengan membeli reksa dana saham. Apa bedanya? Reksa dana saham adalah sekumpulan dana investasi yang pada kelola manajer investasi (MI) menurut kontrak investasi kolektif (KIK). Antara  MI dan bank kustodian (BK).

Dia menjelaskan MI menjual unit reksa dana pada nilai yg terjangkau. Bisa menggunakan minimal Rp100.000. Dan nanti dana yang terkumpul dari para investor di simpan di rekening BK atas nama investor.

“Dana investasi milik para investor ini akan pada investasikan oleh MI secara profesional buat pada belikan saham di BEI. Sesuai keahliannya & lisensinya sebagai pengelola dana investasi yang pada awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). MI akan menyusun portofolio investasi berdasarkan kebijakan investasi masing-masing,” pungkasnya, Sabtu (22/1/2022).

Pintor bilang, MI akan membuat portofolio investasi dengan menentukan saham-saham perusahaan menggunakan kinerja yg baik. Kemudian akan menjalankan prinsip diversifikasi, dan akan memantau setiap waktu pergerakan harga saham yang menjadi underlying reksa dana yg pada kelolanya.

“Sehingga investor yang tidak punya dana akbar, nir punya keahlian yg relatif dan saat buat mengamati harga saham, sanggup membeli reksa dana saham,” tuturnya.Pilih MI Berdasarkan Track Record

Menurut Pintor terdapat poly reksa dana saham yang pada kelola sejumlah MI. Investor mampu menentukan reksa dana saham menurut kinerja historis berdasarkan masing-masing reksa dana. Pilih jua dari track record MI yang mengelola reksa dana. Informasi ini sanggup di peroleh pada website masing-masing MI atau di bank yang sebagai agen penjual reksa dana.

Sama seperti berinvestasi saham secara langsung, reksa dana mampu di beli dan di jual kapan saja. Keuntungan reksa dana menurut harga per unit. Harga reksa dana akan mengalami fluktuasi (naik turun) sinkron pergerakan underlying asset-nya atau saham-saham yang terdapat di dalam portofolionya.

“Untuk meminimalkan risiko investasi reksa dana saham, berinvestasilah dalam jangka panjang. Tetapi, berinvestasi saham menggunakan membeli reksa dana saham akan lebih rendah risikonya buat investor pemula, pada banding berinvestasi saham secara pribadi,” tukasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *